
Jakarta – Tidak mengonsumsi makanan selama sehari penuh membuat tubuh mengalami sejumlah perubahan dalam penggunaan energi. Dari mulai memanfaatkan glukosa yang tersimpan hingga meningkatkan penggunaan lemak sebagai bahan bakar, berikut gambaran proses yang terjadi selama puasa 24 jam.
Puasa atau fasting kini tidak hanya dilakukan karena alasan keagamaan. Pola ini juga semakin populer sebagai bagian dari gaya hidup dan metode pengaturan berat badan.
Meski demikian, puasa dalam waktu panjang bukan berarti selalu aman bagi semua orang. Kondisi kesehatan, aktivitas sehari-hari, serta pola makan seseorang dapat memengaruhi respons tubuh selama berpuasa.
Healthline, seperti dikutip dari Ladbible, menekankan bahwa puasa memberikan efek fisiologis terhadap tubuh. Karena itu, orang yang ingin melakukan perubahan besar pada pola makan sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.
4 Jam Pertama: Tubuh Mulai Menggunakan Cadangan Energi
Beberapa jam setelah makan terakhir, proses pencernaan mulai melambat. Kadar insulin juga mengalami penurunan.
Pada tahap awal ini, tubuh masih mengandalkan glukosa yang tersedia dan cadangan glikogen sebagai sumber energi utama. Tubuh secara bertahap mulai beradaptasi dengan tidak adanya asupan makanan baru.
12 Jam: Pembakaran Lemak Mulai Meningkat
Setelah sekitar 12 jam tanpa makanan, tubuh mulai lebih banyak menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi. Kondisi metabolisme yang menghasilkan keton ini dikenal sebagai ketosis.
Rasa lapar dapat berubah seiring berjalannya waktu. Namun, sebagian orang mungkin mengalami lemas atau kurang bertenaga, terutama jika tetap melakukan aktivitas fisik berat.
16 Jam: Autophagy Mulai Dibahas
Pada fase puasa yang lebih panjang, proses autophagy sering menjadi salah satu hal yang banyak dibicarakan. Autophagy merupakan mekanisme alami sel untuk memecah dan mendaur ulang komponen sel yang sudah rusak atau tidak lagi diperlukan.
Proses ini kemudian sering dikaitkan dengan istilah “pembersihan sel”. Namun, manfaat autophagy akibat puasa terhadap pencegahan maupun pengobatan penyakit pada manusia masih belum sepenuhnya dipahami.
Cleveland Clinic juga menekankan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui sejauh mana proses tersebut dapat memberikan manfaat kesehatan.
18 Jam: Hormon Pertumbuhan Berubah
Memasuki sekitar 18 jam, sejumlah sumber menyebut adanya peningkatan hormon pertumbuhan. Hormon ini memiliki berbagai fungsi, termasuk membantu metabolisme lemak dan mempertahankan jaringan tubuh.
Namun, respons hormon tidak selalu sama pada setiap orang. Kondisi tersebut juga tidak berarti puasa otomatis membuat tubuh membakar lemak dalam jumlah besar atau menghasilkan penurunan berat badan secara instan.
20 Jam: Tubuh Semakin Mengandalkan Cadangan Energi
Ketika puasa berlanjut hingga sekitar 20 jam, tubuh semakin bergantung pada cadangan energi yang tersimpan.
Sensitivitas insulin juga dapat mengalami perubahan selama periode pembatasan asupan. Meski demikian, efek metabolik puasa sangat dipengaruhi oleh kondisi individu sehingga tidak tepat menganggap setiap orang akan mengalami perubahan yang sama.
24 Jam: Tubuh Beradaptasi dengan Tidak Adanya Asupan
Setelah mencapai satu hari tanpa makanan, penggunaan lemak sebagai sumber energi menjadi semakin penting. Tubuh telah melakukan berbagai penyesuaian untuk mempertahankan pasokan energi bagi organ-organ vital.
Namun, klaim bahwa puasa 24 jam secara otomatis membuat tubuh “memperbaiki seluruh sel”, menghilangkan peradangan, atau memperkuat sistem imun perlu disikapi dengan hati-hati. Bukti ilmiah mengenai manfaat kesehatan jangka panjang dari puasa 24 jam masih terus berkembang.
Puasa 24 Jam Tidak Cocok untuk Semua Orang
Walaupun puasa semakin populer sebagai metode diet, bukan berarti semakin lama seseorang tidak makan maka semakin sehat pula tubuhnya.
Puasa panjang dapat menimbulkan rasa lapar, lemas, pusing, sulit berkonsentrasi, atau keluhan lainnya pada sebagian orang. Risikonya juga dapat berbeda tergantung kondisi kesehatan dan obat yang dikonsumsi.
Karena itu, puasa 24 jam sebaiknya tidak dilakukan sembarangan, terutama oleh orang dengan kondisi kesehatan tertentu. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi dapat membantu menentukan apakah pola puasa tersebut aman dan sesuai dengan kebutuhan tubuh.
