
Jakarta – Spons cuci piring menjadi salah satu perlengkapan yang hampir selalu digunakan setiap hari. Meski terlihat bersih, benda ini justru dapat menyimpan banyak mikroorganisme karena sering terkena air, minyak, dan sisa makanan.
Kondisi spons yang lembap membuat bakteri lebih mudah berkembang. Jika tidak dirawat atau diganti secara berkala, spons juga berpotensi menjadi sumber kontaminasi silang ke peralatan makan dan tangan.
Dikutip dari Times of India, berikut sejumlah fakta mengenai kebersihan spons dapur yang perlu diperhatikan.
1. Mudah Menjadi Tempat Berkembangnya Bakteri
Spons memiliki struktur berpori yang mampu menyerap air sekaligus menahan sisa makanan dan minyak. Lingkungan lembap tersebut dapat menjadi tempat yang mendukung pertumbuhan berbagai mikroorganisme.
Bakteri seperti E. coli dan Salmonella dapat ditemukan pada spons yang digunakan untuk mencuci peralatan dapur. Jika spons dipakai berulang kali tanpa dibersihkan dengan benar, mikroorganisme tersebut berpotensi berpindah ke piring, alat makan, maupun tangan.
Karena itu, spons yang tampak bersih belum tentu bebas dari bakteri.
2. Ada Kekhawatiran soal Bahan Kimia dan Mikroplastik
Selain persoalan mikroba, spons sintetis juga menjadi perhatian karena terbuat dari material tertentu yang dapat mengalami keausan selama digunakan.
Gesekan ketika mencuci piring dapat membuat sebagian material terlepas menjadi partikel berukuran sangat kecil. Inilah yang kemudian memunculkan kekhawatiran mengenai paparan mikroplastik dari spons dapur.
Namun, klaim bahwa spons tertentu mengandung puluhan bahan kimia berbahaya dan secara rutin melepaskannya ke makanan perlu dilihat berdasarkan jenis spons serta bukti ilmiah yang spesifik, bukan digeneralisasi pada semua spons.
3. Bakteri Patogen Pernah Ditemukan dalam Spons Bekas
Penelitian mengenai mikrobioma spons dapur menunjukkan bahwa spons bekas dapat menjadi tempat hidup berbagai jenis bakteri.
Dalam studi Viability Discrimination of Bacterial Microbiomes in Home Kitchen Dish Sponges, peneliti menggunakan metode analisis mikrobiologi untuk membedakan bakteri yang masih hidup dari keseluruhan komunitas mikroorganisme.
Hasil penelitian menemukan keberadaan sejumlah bakteri patogen pada sampel spons yang diteliti. E. coli dan Staphylococcus aureus juga terdeteksi pada sampel tertentu.
Temuan tersebut menunjukkan pentingnya memperhatikan kebersihan dan masa penggunaan spons, terutama karena benda ini bersentuhan langsung dengan peralatan makan.
4. Spons yang Lembap Lebih Berisiko
Spons yang terus-menerus basah dan jarang dikeringkan memberikan kondisi ideal bagi mikroorganisme untuk berkembang.
Setelah digunakan, spons sebaiknya dibilas hingga tidak ada sisa makanan atau sabun yang tertinggal. Spons juga perlu diperas dan diletakkan di tempat yang memiliki sirkulasi udara baik agar lebih cepat kering.
Membersihkan spons tidak berarti membuatnya steril sepenuhnya. Karena itu, penggunaan spons dalam waktu terlalu lama tetap sebaiknya dihindari.
5. Jangan Menunggu Spons Sampai Bau
Salah satu cara sederhana mengurangi risiko kontaminasi adalah mengganti spons secara berkala. Jangan menunggu sampai spons berubah warna, mengeluarkan bau tidak sedap, atau mulai rusak.
Frekuensi penggantian dapat disesuaikan dengan kondisi dan intensitas pemakaian. Jika spons digunakan sangat sering dan sulit dikeringkan, penggantiannya mungkin perlu dilakukan lebih cepat.
Sebagai alternatif, beberapa orang dapat menggunakan sikat pencuci piring yang lebih mudah dibersihkan dan dikeringkan.
Cara Menjaga Spons Tetap Higienis
Agar spons tidak cepat menjadi sumber kontaminasi, beberapa kebiasaan sederhana bisa dilakukan:
- Bilas spons setelah selesai digunakan.
- Peras air sebanyak mungkin.
- Simpan di tempat yang memungkinkan spons cepat kering.
- Jangan menggunakan spons yang sudah berbau atau berlendir.
- Hindari memakai satu spons untuk semua keperluan, terutama untuk membersihkan permukaan yang terkena bahan mentah.
- Ganti spons secara rutin sesuai kondisi pemakaian.
Jadi, spons dapur memang dapat menjadi tempat berkumpulnya bakteri, tetapi bukan berarti setiap spons otomatis lebih berbahaya daripada toilet. Kebersihan, cara penyimpanan, lama pemakaian, serta frekuensi penggantian sangat menentukan tingkat risikonya.
