
Jakarta – Teknologi Video Assistant Referee (VAR) kembali menjadi sorotan sepanjang Piala Dunia Putra 2026. Perdebatan mengenai sistem bantuan wasit itu memuncak setelah laga perempat final yang mempertemukan Argentina dan Swiss berakhir dengan kemenangan Argentina 3-1.
Kontroversi bermula ketika penyerang Swiss, Breel Embolo, harus meninggalkan lapangan setelah menerima kartu kuning kedua. Awalnya wasit menilai Leandro Paredes melakukan pelanggaran terhadap Embolo dan memberikan kartu kuning kepada gelandang Argentina tersebut.
Namun, setelah mendapat masukan dari tim VAR, wasit diminta meninjau ulang insiden itu menggunakan aturan mistaken identity. Tayangan ulang memperlihatkan bahwa Embolo dinilai melakukan simulasi atau diving. Keputusan pun berubah, kartu kuning untuk Paredes dibatalkan, sedangkan Embolo yang sebelumnya telah mengoleksi satu kartu kuning akhirnya diusir dari pertandingan.
Keputusan tersebut memicu protes keras dari kubu Swiss yang merasa dirugikan karena harus bermain dengan 10 pemain pada babak kedua.
Kontroversi VAR sebenarnya sudah muncul sejak babak 16 besar ketika Argentina menghadapi Mesir. Dalam pertandingan tersebut, Argentina berhasil bangkit dari ketertinggalan dua gol dan menang 3-2.
Tim Mesir menilai beberapa keputusan wasit merugikan mereka. Salah satunya adalah dianulirnya gol Mostafa Zico setelah VAR menilai Marwan Attia melakukan pelanggaran terhadap Lisandro Martinez pada awal proses serangan. Selain itu, kubu Mesir juga mempertanyakan tidak adanya peninjauan VAR terhadap dugaan pelanggaran yang dialami Mohamed Salah di kotak penalti pada menit-menit akhir.
Pelatih Mesir, Hossam Hassan, bahkan melontarkan kritik tajam dengan menyebut muncul dugaan bahwa keputusan-keputusan tersebut menguntungkan sang juara bertahan agar tetap melaju di turnamen.
Dua pertandingan tersebut kembali memunculkan pertanyaan mengenai fungsi dan konsistensi penerapan VAR di ajang sepak bola terbesar dunia.
VAR atau Video Assistant Referee merupakan teknologi yang resmi diperkenalkan FIFA pada 2018. Sistem ini dirancang untuk membantu wasit mengambil keputusan penting melalui bantuan rekaman video dari berbagai sudut kamera apabila terjadi dugaan kesalahan yang jelas di lapangan.
Tim VAR bekerja dari ruang operasi video yang terpisah dari stadion. Pada Piala Dunia 2026, pusat operasi tersebut berada di Dallas, Amerika Serikat. Jika ditemukan potensi kekeliruan, wasit di lapangan akan diminta meninjau ulang tayangan melalui monitor di sisi lapangan sebelum mengambil keputusan akhir.
Dalam turnamen kali ini, FIFA memperluas cakupan penggunaan VAR. Selain dapat digunakan untuk meninjau gol, penalti, kartu merah langsung, dan kesalahan identitas pemain, VAR kini juga dapat mengoreksi pemberian tendangan sudut yang jelas keliru serta meninjau kartu kuning kedua yang berujung kartu merah apabila dianggap sebagai kesalahan nyata.
Sementara itu, teknologi garis gawang tetap menggunakan sistem terpisah yang memanfaatkan sensor pada bola pertandingan untuk memastikan apakah bola telah sepenuhnya melewati garis gawang.
VAR pertama kali digunakan pada Piala Dunia Rusia 2018 dengan total 20 intervensi sepanjang 64 pertandingan. Dari jumlah tersebut, 17 keputusan wasit berubah setelah peninjauan, termasuk penalti yang diberikan kepada Prancis pada partai final melawan Kroasia.
Pada Piala Dunia Qatar 2022, jumlah intervensi meningkat menjadi 27 kali. Hampir seluruh peninjauan melalui monitor di tepi lapangan berakhir dengan perubahan keputusan wasit.
Hingga fase yang telah berlangsung di Piala Dunia 2026, analis BBC Sport sekaligus pakar VAR, Dale Johnson, mencatat terdapat 23 peninjauan monitor dalam 96 pertandingan. Menariknya, hanya satu proses peninjauan yang tidak mengubah keputusan awal wasit.
Menurut Johnson, FIFA musim ini memang menginstruksikan wasit agar lebih membiarkan kontak fisik yang masih dianggap wajar sehingga ritme pertandingan tetap terjaga. Dampaknya, rata-rata jumlah pelanggaran yang terjadi per laga menurun dibandingkan dua edisi Piala Dunia sebelumnya.
Meski demikian, Johnson menilai keputusan VAR yang membatalkan gol Mesir belum sepenuhnya konsisten dengan standar perwasitan yang diterapkan sepanjang turnamen. Sebaliknya, ia tidak menganggap insiden yang melibatkan Mohamed Salah sebagai kontroversi besar karena standar pemberian penalti memang memiliki ambang pelanggaran yang lebih tinggi dibanding situasi lain.
