
Jakarta – Makan dengan tempo yang lebih lambat tidak hanya bermanfaat bagi sistem pencernaan, tetapi juga berdampak positif terhadap kondisi psikologis. Sejumlah penelitian menunjukkan kebiasaan sederhana ini berkaitan dengan kemampuan mengelola emosi, mengenali sinyal tubuh, hingga membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan.
Selama ini, pembahasan mengenai kecepatan makan lebih sering dikaitkan dengan berat badan atau kesehatan pencernaan. Padahal, para peneliti menemukan bahwa cara seseorang menikmati makanan juga berpengaruh terhadap kesehatan mental dan perilaku makan dalam jangka panjang.
Mengutip Times of India (21/6/2026), berikut beberapa manfaat psikologis yang dikaitkan dengan kebiasaan makan secara perlahan.
1. Lebih Mudah Mengenali Rasa Lapar dan Kenyang
Makan dengan tempo lebih santai memberi waktu bagi tubuh untuk mengirimkan sinyal kenyang ke otak. Hormon yang berperan dalam rasa kenyang membutuhkan waktu sekitar 20 menit sejak seseorang mulai makan hingga efeknya benar-benar dirasakan.
Orang yang makan terlalu cepat sering kali mengonsumsi makanan melebihi kebutuhan karena sinyal tersebut belum sempat diterima otak.
Sebaliknya, makan perlahan membantu meningkatkan kesadaran terhadap kondisi tubuh atau interoceptive awareness, sehingga seseorang lebih mampu mengenali kapan benar-benar lapar maupun sudah cukup makan.
2. Mengurangi Kebiasaan Makan karena Stres
Penelitian menunjukkan stres berkepanjangan dapat meningkatkan kadar hormon kortisol yang mendorong seseorang makan lebih cepat serta memilih makanan tinggi kalori sebagai bentuk pelampiasan.
Saat seseorang membiasakan diri makan perlahan, pola otomatis tersebut dapat berkurang. Proses ini melibatkan bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan dan pengendalian diri, sehingga makan perlahan juga dianggap sebagai latihan untuk meningkatkan regulasi emosi.
3. Memberikan Kepuasan Makan yang Lebih Tinggi
Menurut kajian dari Harvard Health, menikmati makanan secara perlahan membuat otak memiliki waktu lebih banyak untuk memproses rasa, aroma, serta tekstur makanan.
Pengalaman makan pun terasa lebih memuaskan sehingga keinginan untuk kembali makan setelah selesai cenderung menurun. Sebaliknya, makan terburu-buru membuat pengalaman sensorik berkurang meski jumlah kalori yang dikonsumsi sama.
4. Membantu Mengendalikan Emosi Terkait Makanan
Tinjauan penelitian yang dimuat dalam Nutrition Research Reviews menemukan bahwa praktik mindful eating, termasuk makan secara perlahan dan penuh perhatian, berkaitan dengan berkurangnya kebiasaan makan berlebihan maupun makan karena dorongan emosi.
Kebiasaan tersebut juga diyakini membantu menurunkan respons berlebihan pada bagian otak yang berkaitan dengan emosi, sehingga seseorang lebih mampu menikmati makanan tanpa menjadikannya sebagai pelampiasan stres atau suasana hati.
5. Membangun Hubungan yang Lebih Sehat dengan Makanan
Penelitian yang dipublikasikan dalam Frontiers in Nutrition pada 2025 terhadap 990 orang dewasa menunjukkan bahwa individu dengan tingkat mindful eating dan intuitive eating yang tinggi cenderung memiliki stres psikologis lebih rendah serta pola makan yang lebih baik.
Orang yang terbiasa makan perlahan juga lebih mampu memandang makanan sebagai sumber nutrisi dan kenikmatan, bukan sebagai sesuatu yang harus dihabiskan secepat mungkin atau menjadi penyebab rasa bersalah setelah makan. Kebiasaan ini dinilai dapat membantu membentuk hubungan yang lebih positif dengan makanan dalam jangka panjang.
