Pernahkah kamu merasa kalau berita tentang perang itu rasanya cuma sekadar tumpukan angka yang bikin pusing? Kita sering disuguhi headline bombastis: "Sekian ribu rudal ditembakkan," "Sekian wilayah berhasil dikuasai," atau "Sekian juta pengungsi melintasi perbatasan." Rasanya seperti melihat statistik kemacetan lalu lintas di aplikasi peta digital; kita tahu ada yang macet total dan "merah" di sana, tapi kita tidak benar-benar merasakan panasnya mesin mobil, frustrasinya pengemudi yang kebelet pipis, atau lelahnya anak kecil yang terjebak di kursi belakang selama berjam-jam.
Ya, begitulah cara media arus utama membungkus konflik global. Fokusnya selalu pada geopolitik, strategi militer, dan kepentingan nasional. Padahal, perang itu bukan cuma soal papan catur raksasa di mana para pemimpin dunia menggeser bidak-bidak tentara. Perang itu lebih mirip dengan badai topan yang menghancurkan atap rumah, memutus kabel listrik, dan membuat rutinitas sarapan pagi berubah jadi upaya bertahan hidup yang mencekam.
Untuk benar-benar memahami apa itu "kerusakan akibat perang," kadang kita perlu menaruh sejenak koran dan buku sejarah kita. Kita butuh fiksi. Kenapa? Karena novel punya kemampuan magis untuk masuk ke dalam rumah, ke dalam kamar tidur, bahkan ke dalam isi kepala seseorang. Hari ini, mari kita membedah realita perang melalui lensa dua mahakarya: A Thousand Splendid Suns karya Khaled Hosseini dan As Long as the Lemon Trees Grow karya Zoulfa Katouh.
Mariam dan Laila: Ketika "Rumah" Bukan Lagi Tempat Aman
Bayangkan hidupmu tiba-tiba berubah drastis karena kebijakan politik. Bukan karena kamu salah apa-apa, tapi karena ada sekelompok orang yang memutuskan bahwa mulai besok, perempuan tidak boleh lagi bekerja, bersekolah, atau bahkan sekadar keluar rumah tanpa pendamping. Ini bukan skenario film distopia; ini adalah kehidupan nyata Mariam dan Laila di Afghanistan.
Dalam novel A Thousand Splendid Suns, Khaled Hosseini membawa kita melampaui statistik jumlah korban jiwa. Ia menunjukkan bahwa perang sering kali punya dua wajah. Wajah pertama adalah ledakan bom di jalanan, tapi wajah kedua—yang jauh lebih menyeramkan bagi banyak perempuan—adalah kekerasan domestik yang bersembunyi di balik pintu rumah.
Di sini, kita belajar bahwa perang bagi perempuan itu seperti sistem operasi (OS) yang dipaksa update ke versi yang rusak. Tiba-tiba, aplikasi "pendidikan" tidak bisa dibuka, fitur "kebebasan bergerak" diblokir, dan privasi diri dihapus total. Taliban bukan sekadar entitas politik di mata mereka; itu adalah tembok beton yang membatasi napas dan masa depan. Hingga saat ini, laporan dari UN Women tahun 2025 kembali mengingatkan kita bahwa realita pahit ini belum usai. Kebijakan yang melarang perempuan mengakses pendidikan dan kehidupan publik adalah bentuk perang lain—perang yang dilakukan secara halus namun mematikan bagi potensi manusia.
Salama Kassab: Dilema Antara "Pergi" atau "Bertahan"
Kalau Mariam dan Laila membawa kita ke ruang keluarga yang menyesakkan, Salama Kassab dalam As Long as the Lemon Trees Grow membawa kita ke tengah kekacauan rumah sakit di Homs, Suriah.
Salama bukanlah seorang prajurit. Ia hanya seorang mahasiswa farmasi biasa yang tiba-tiba harus menjadi "tangan kanan" takdir di tengah gempuran bom. Bayangkan kamu sedang ujian akhir, tapi bukannya mengerjakan soal pilihan ganda, kamu malah harus menjahit luka robek di kaki orang asing sambil mendengarkan suara penembak jitu yang berpatroli di luar sana.
Yang paling menarik dari karakter Salama adalah manifestasi ketakutannya yang digambarkan sebagai sosok bernama Khawf. Ini adalah metafora jenius untuk trauma. Dalam dunia nyata, trauma itu seperti aplikasi latar belakang (background apps) di ponsel yang tidak terlihat tapi terus-menerus menguras baterai dan memori otak kita. Salama terus bergulat dengan satu pertanyaan besar: "Apakah aku pengecut jika pergi demi menyelamatkan nyawa, atau aku egois jika tinggal sementara aku tidak bisa lagi menolong siapa pun?"
Dilema ini tidak akan pernah bisa dijawab oleh statistik pengungsi. Angka bisa memberi tahu berapa banyak orang yang menyeberang perbatasan, tapi angka tidak akan pernah tahu rasanya mengunci pintu rumah untuk terakhir kalinya, meninggalkan kenangan masa kecil di dalam, dan tidak tahu apakah kamu akan pernah bisa kembali untuk mengambil kunci itu lagi. Jika kamu ingin mendalami lebih jauh bagaimana konflik mengubah hidup seseorang, kamu bisa membaca artikel kami tentang psikologi ketahanan manusia di tengah krisis.
Rentan Bukan Berarti Lemah: Membongkar Mitos "Korban"
Salah satu jebakan terbesar saat kita membahas perempuan di zona perang adalah kecenderungan untuk melabeli mereka dengan dua ekstrem: "korban yang malang" atau "perempuan super yang tak bisa hancur." Keduanya sama-sama tidak adil.
Mariam, Laila, dan Salama adalah contoh nyata bahwa kerentanan dan kekuatan itu bisa hidup berdampingan. Mereka takut, mereka menangis, mereka kehilangan, tapi mereka tetap membuat keputusan. Mereka merawat yang terluka, mereka melindungi anak-anak, mereka menjaga api harapan tetap menyala meskipun dunia di sekitar mereka sudah jadi puing.
Dalam studi Hubungan Internasional, ada konsep yang disebut Women, Peace, and Security (Resolusi Dewan Keamanan PBB 1325). Konsep ini sebenarnya ingin mengatakan satu hal sederhana: perempuan itu bukan cuma kelompok rentan yang harus "diselamatkan" oleh negara, tapi mereka adalah aktor kunci dalam membangun perdamaian.
Jangan pernah meromantisasi penderitaan mereka dengan menyebutnya "kekuatan yang menginspirasi" jika kita sendiri tidak peduli pada keamanan mereka. Mereka tidak butuh pujian atas ketangguhan mereka; mereka butuh dunia yang tidak memaksa mereka untuk menjadi "kuat" hanya demi bertahan hidup dari struktur kekerasan yang diciptakan oleh orang lain. Pelajari lebih lanjut mengenai bagaimana keterlibatan perempuan bisa mengubah dinamika resolusi konflik dunia.
Kenapa Fiksi Kadang Lebih Jujur daripada Berita?
Mungkin kamu bertanya, "Kenapa harus repot-repot baca novel kalau bisa baca laporan PBB?" Jawabannya sederhana: empati.
Laporan PBB bisa memberi tahu kamu kapan Kabul jatuh atau berapa total kerusakan infrastruktur di Suriah. Tapi, hanya fiksi yang bisa mengajak kamu merasakan aroma pohon lemon di halaman rumah yang sebentar lagi akan rata dengan tanah. Pohon lemon itu bukan sekadar tanaman; itu adalah simbol dari kehidupan normal yang direnggut paksa.
Ketika kita membaca kisah Mariam, Laila, dan Salama, kita berhenti melihat perang sebagai "permainan catur" antar negara. Kita mulai melihatnya sebagai kematian rutinitas. Kita melihat betapa berharganya secangkir kopi pagi, betapa mahalnya rasa aman untuk berjalan ke pasar, dan betapa sucinya sebuah pelukan keluarga di tengah dentuman bom.
Kesimpulan: Belajar Mendengarkan, Bukan Sekadar Menonton
Kedua novel ini, A Thousand Splendid Suns dan As Long as the Lemon Trees Grow, adalah pengingat bahwa perang tidak selalu berakhir saat suara tembakan berhenti. Bagi banyak orang, perang berlanjut di dalam kepala, di dalam trauma, dan dalam kesempatan hidup yang terampas.
Mariam, Laila, dan Salama memang karakter fiksi, tapi suara mereka mewakili jutaan nyawa yang suaranya sering tenggelam di balik suara jenderal dan politisi. Kita perlu belajar bahwa memahami konflik tidak selalu berarti menghafal peta wilayah atau jenis senjata yang digunakan. Kadang, memahami perang berarti duduk diam, membuka hati, dan mendengarkan kisah mereka yang berjuang untuk tetap menjadi manusia ketika dunianya sedang runtuh berkeping-keping.
Jadi, lain kali saat kamu melihat berita tentang konflik di belahan dunia lain, cobalah untuk tidak cuma melihat angkanya. Ingatlah ada pohon lemon yang sedang menunggu untuk dirawat, ada ruang keluarga yang kehilangan kehangatannya, dan ada perempuan-perempuan yang—meski dalam ketakutan—terus berjuang untuk menuliskan cerita mereka sendiri. Karena pada akhirnya, sejarah bukan cuma ditulis oleh pemenang perang, tapi juga oleh mereka yang berhasil bertahan hidup untuk menceritakannya.
