
Jakarta – Bersin yang muncul akibat alergi sering kali mengganggu aktivitas sehari-hari. Menariknya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa matcha berpotensi membantu mengurangi gejala tersebut. Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa minuman ini bukanlah obat untuk menyembuhkan alergi.
Mengutip Food & Wine, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal NPJ Science of Food meneliti pengaruh ekstrak matcha terhadap tikus yang dibuat mengalami kondisi menyerupai reaksi alergi.
Hasilnya menunjukkan bahwa tikus yang menerima ekstrak matcha mengalami frekuensi bersin lebih sedikit dibandingkan kelompok yang tidak mendapatkannya.
Bekerja Lewat Jalur yang Berbeda
Temuan menarik dari studi ini adalah cara kerja matcha yang tidak melibatkan mekanisme alergi yang umum dikenal, seperti imunoglobulin E (IgE), sel mast, maupun sel T.
Sebaliknya, ekstrak matcha diketahui memengaruhi aktivitas pada batang otak yang berhubungan dengan refleks bersin. Mekanisme tersebut mengindikasikan adanya jalur neurologis yang berperan dalam mengurangi gejala alergi.
Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa efek tersebut hanya membantu meredakan gejala, bukan menghilangkan penyebab alergi itu sendiri.
“Kami tidak mengklaim matcha memberikan efek pengobatan yang signifikan terhadap alergi, tetapi minuman ini bisa membantu meredakan gejala seperti bersin,” ujar Osamu Kaminuma, salah satu penulis penelitian.
Kandungan Katekin Diduga Berperan
Para ahli menduga manfaat tersebut berasal dari kandungan katekin yang terdapat dalam matcha. Senyawa ini diketahui memiliki sifat antioksidan sekaligus berpotensi membantu mengurangi gejala alergi seperti bersin, hidung gatal, dan mata berair.
Matcha juga mengandung epigallocatechin gallate (EGCG), salah satu jenis katekin yang diduga mampu menghambat pelepasan histamin, yaitu senyawa yang memicu munculnya reaksi alergi.
Menurut ahli gizi Keri Gans, RDN, temuan tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut karena penelitian baru dilakukan pada hewan.
“Penelitian ini masih dilakukan pada hewan, sehingga diperlukan studi lanjutan pada manusia sebelum menarik kesimpulan yang pasti,” jelas Keri Gans.
Tetap Bukan Pengganti Obat
Walaupun memiliki potensi membantu meredakan bersin, matcha tidak dapat menggantikan terapi atau obat alergi yang telah direkomendasikan dokter.
Para ahli juga mengingatkan agar konsumsi matcha tidak berlebihan. Asupan sekitar dua hingga tiga cangkir per hari masih dinilai aman bagi kebanyakan orang.
Jika dikonsumsi terlalu banyak, kandungan kafein dalam matcha justru dapat memicu efek samping seperti sulit tidur maupun gangguan pencernaan.
Punya Manfaat Lain, tetapi Ada Hal yang Perlu Diperhatikan
Selain berpotensi membantu mengurangi gejala alergi, matcha juga mengandung L-theanine yang dikenal dapat memberikan efek relaksasi tanpa menimbulkan rasa kantuk. Kandungan antioksidannya pun berkontribusi dalam menjaga kesehatan tubuh dan mendukung sistem kekebalan.
Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat mengonsumsinya. Penambahan susu pada matcha latte dapat mengurangi penyerapan katekin. Selain itu, teh juga berpotensi menghambat penyerapan zat besi jika diminum bersamaan dengan makanan kaya zat besi.
Matcha juga dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat, termasuk antihistamin maupun obat untuk penyakit jantung. Karena itu, konsultasi dengan tenaga medis tetap disarankan bagi orang yang rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu.
Secara keseluruhan, menikmati matcha saat gejala alergi muncul boleh saja dilakukan sebagai upaya membantu mengurangi frekuensi bersin. Namun, minuman ini sebaiknya hanya dijadikan pelengkap, bukan pengganti pengobatan utama untuk mengatasi alergi.
