Pernahkah kamu membayangkan kalau "harta karun" yang setiap hari ada di meja makan kita—seperti ikan kembung atau cumi goreng—bisa berubah jadi mata uang asing yang nilainya bikin melongo? Ya, bukan lagi sekadar lauk pauk pendamping nasi hangat, hasil laut Indonesia baru saja membuktikan kalau mereka punya "level internasional". Baru-baru ini, di ajang The 28th Japan International Seafood & Technology Expo (JISTE) 2026 di Tokyo, produk boga bahari kita sukses bikin para pebisnis Jepang jatuh cinta. Hasilnya? Potensi transaksi fantastis sebesar Rp 3,49 triliun!
Angka ini bukan sekadar angka di atas kertas, lho. Kalau kita ibaratkan, ini seperti kita lagi buka warung makan kecil di pinggir jalan, tapi yang antre beli malah deretan konglomerat yang sudah langganan makan di restoran berbintang Michelin. Kok bisa? Mari kita bedah rahasia di balik suksesnya "diplomasi kuliner" ini dengan gaya yang lebih santai.
Saat Ikan Lokal Naik Kelas Jadi "Bintang Tamu" di Jepang
Bayangkan JISTE 2026 itu seperti ajang fashion week, tapi alih-alih memamerkan baju karya desainer papan atas, yang dipamerkan adalah "koleksi terbaik" dari laut Indonesia. Ada tuna, gurita, ikan kisu, sampai ebi fry yang digoreng garing. Kalau di pasar tradisional kita, mungkin barang-barang ini sudah biasa kita tawar harganya, tapi di tangan para eksportir Indonesia, barang-barang ini sudah naik kasta.
Kenapa Jepang begitu tergila-gila? Sederhananya, Jepang itu ibarat seorang foodie kelas berat yang punya standar tinggi banget. Mereka nggak cuma butuh ikan yang segar, tapi juga harus punya "cerita" di baliknya—mulai dari cara tangkap yang ramah lingkungan sampai proses pengolahannya yang bersih. Produk Indonesia berhasil melewati "tes masuk" yang ketat itu. Produk kita bukan lagi sekadar barang komoditas murah, tapi sudah dianggap sebagai bahan baku premium yang setara dengan gadget canggih yang kita beli di toko elektronik.
Strategi "Tarif Nol Persen" dan Jurus IJEPA
Bicara soal ekspor, pasti banyak yang mikir, "Ah, ribet banget birokrasinya, pasti pajaknya mahal." Nah, di sinilah letak kuncinya. Pemerintah kita melalui Kementerian Perdagangan sedang gencar-gencarnya memanfaatkan Protokol Perubahan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA).
Gampangnya, IJEPA ini seperti "tiket VVIP" atau fast track di taman hiburan. Kalau biasanya orang harus antre panjang (kena tarif pajak tinggi), dengan adanya protokol ini, akses pasar kita jadi jauh lebih lancar karena kebijakan tarif nol persen untuk produk ikan olahan. Bayangkan kalau kamu punya teman orang dalam yang bisa bukain gerbang belakang—itu yang sedang dilakukan negara agar produk nelayan kita bisa sampai ke meja makan warga Tokyo atau Osaka dengan harga yang lebih kompetitif. Jadi, nggak ada lagi alasan harga ikan kita kemahalan di sana, karena jalurnya sudah dipermudah.
Bukan Cuma Soal Ikan, Tapi Soal Kepercayaan
Duta Besar RI untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir, menekankan satu hal yang sangat penting: Kepercayaan. Di dunia bisnis internasional, apalagi dengan orang Jepang yang terkenal sangat menghargai disiplin, kualitas itu nomor dua. Nomor satunya? Komitmen.
Coba bayangkan kamu punya langganan tukang sayur. Kalau besok dia datang tepat waktu dan sayurnya selalu segar, kamu pasti bakal langganan terus, kan? Tapi kalau sekali saja dia telat atau malah bawa sayur yang layu, kamu pasti bakal cari tukang sayur lain. Nah, inilah tantangan bagi para pengusaha kita. Mereka harus menjaga agar pasokan tuna dan gurita tetap konsisten, kualitasnya terjaga, dan transparansinya jelas.
Ini adalah pelajaran berharga buat kita semua. Dalam bisnis, membangun reputasi itu jauh lebih sulit daripada mencari pembeli pertama. Sekali kita dipercaya, pembeli Jepang akan menjadi mitra setia yang bakal "mengikat" kontrak jangka panjang dengan kita.
14 "Pahlawan" dari Paviliun Indonesia
Di pameran Tokyo Big Sight yang megah itu, ada 14 perusahaan Indonesia yang berjuang mati-matian. Mereka adalah wajah-wajah di balik suksesnya transaksi Rp 3,49 triliun. Nama-nama seperti PT Nirvana Niaga Sejahtera sampai PT Makan Udangnya Indonesia (namanya unik banget, ya!) berhasil mencuri perhatian.
Bahkan, ada momen bersejarah di sana: penandatanganan MoU antara PT Nirvana Niaga Sejahtera dengan Godai Co., Ltd. senilai Rp 169,25 miliar khusus untuk produk sashimi-grade yellowfin tuna loin. Coba bayangkan, ikan yang mungkin kita buat jadi menu sate di rumah, di tangan mereka berubah jadi bahan baku sashimi mewah yang harganya bikin dompet bergetar.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa kalau kita mau serius menggarap potensi laut, hasilnya nggak main-main. Tips memulai bisnis skala ekspor pun sebenarnya dimulai dari langkah sederhana: riset pasar, jaga kualitas, dan berani tampil beda di pameran internasional.
Mengapa Data Ekspor Ini Harus Bikin Kita Bangga?
Secara statistik, ekspor produk perikanan Indonesia ke Jepang dari Januari sampai Juni saja sudah menyentuh angka USD 173,00 juta. Dari angka itu, produk olahan seperti tuna dan cumi-cumi menyumbang sekitar USD 45,81 juta. Angka ini adalah bukti bahwa strategi hilirisasi—atau mengolah bahan mentah jadi barang jadi—itu memang sangat worth it.
Ibaratnya begini: menjual ikan mentah itu seperti menjual tanah kosong. Tapi menjual ikan olahan (seperti tuna kaleng premium atau gurita olahan) itu seperti menjual rumah yang sudah direnovasi cantik dan siap huni. Nilai jualnya jauh lebih tinggi!
Kesimpulan: Saatnya Laut Jadi Tumpuan Masa Depan
Apa yang terjadi di JISTE 2026 ini adalah sinyal besar bagi kita semua. Indonesia adalah negara maritim yang luasnya bukan main. Jika kita bisa mengelola sumber daya laut kita dengan standar dunia, kita nggak perlu lagi bergantung pada sektor-sektor yang mungkin sudah jenuh.
Melihat antusiasme 30.091 pengunjung di pameran tersebut, saya jadi sadar bahwa dunia sebenarnya sangat haus akan produk laut Indonesia. Masalah kita selama ini mungkin bukan pada "kekurangan ikan", melainkan pada "cara kita mengemas dan menjualnya". Dengan dukungan pemerintah yang makin terbuka lewat IJEPA dan semangat pengusaha lokal yang makin "melek" teknologi, masa depan ekonomi biru Indonesia terlihat sangat cerah, secerah matahari pagi di pelabuhan.
Jadi, lain kali kalau kamu sedang makan sushi atau sashimi, coba deh perhatikan labelnya. Siapa tahu itu adalah hasil tangkapan nelayan dari perairan kita yang sudah melanglang buana sampai ke Negeri Sakura. Bangga, kan? Tetaplah berkarya dan jangan pernah berhenti untuk berinovasi, karena dunia selalu punya tempat untuk kualitas terbaik, termasuk dari negeri kita sendiri.
Sudah siap untuk melihat produk lokal kita mendominasi pasar global? Mari kita tunggu gebrakan-gebrakan selanjutnya dari para "pahlawan laut" Indonesia ini di pameran-pameran mendatang. Siapa tahu, tahun depan giliran produk olahan UMKM kamu yang bakal bikin pengusaha Jepang antre panjang!
